Cilegon, CNO – Suhu udara di Kota Cilegon dalam beberapa hari ke belakang cenderung lebih dingin terutama pada malam hari. Kondisi ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi Cilegon yang merupakan daerah industri.
Selain kondisi suhu yang dingin, di beberapa lokasi kerap diselimuti kabut dengan intensitas tipis hingga sedang.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Serang Tarjono menyatakan, fenomena ini terjadi lantaran Kota Cilegon saat ini telah memasuki musim kemarau, termasuk wilayah Tangerang dan Serang yang masuk di zona 58.
Namun kemarau di wilayah zona 58 ini dikategorikan kemarau basah yang pada saat-saat tertentu masih sering terjadi hujan lebat disertai angin dan petir.
“Karena sering terjadi hujan, jadi mungkin mempengaruhi suhu udara menjadi lebih dingin. Kita tahu juga di Cilegon itu panasnya bukan karena atmosfer saja, tetapi juga faktor kawasan industri,” kata Tarjono, Rabu (23 Juni 2021).
Sedangkan fenomena kabut yang kerap menyelimuti beberapa wilayah, menurut Tarjono disebabkan oleh pertemuan dua suhu udara usai terjadinya hujan.
“Pada saat itu suhu permukaan tanah masih dalam kondisi hangat dan suhu udara menjadi dingin sehingga menimbulkan kabut,” tuturnya.
Dipaparkannya, apabila intensitas hujan sudah menurun maka suhu udara di wilayah tersebut dapat kembali normal. Meski kondisi udara di Cilegon lebih dingin namun hal tersebut masih dianggap wajar lantaran tidak sampai di bawah 16 derajat celsius.
Kemarau basah ini, kata Tarjono juga dipengaruhi oleh iklim global yang saat ini suhu udara di permukaan laut Samudera Pasifik lebih rendah dibanding wilayah barat Indonesia.
Hal ini menyebabkan beberapa wilayah di Indonesia Barat dan Indonesia Timur masih mendapatkan suplay air meskipun tidak sebesar saat fenomena La Nina pada Desember 2020 hingga Maret 2021.
(*Fer/Red)




















