Cilegon, CNO – Pemerintah Kota Cilegon melakukan pengerukan sedimen tandon penampungan air BBS 3, Jumat (25 September 2026). Rencanannya pengerukan akan dilakukan setiap tahun oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cilegon.
Kepala Dinas PUPR Kota Cilegon Tubagus Dendi Rudiatna mengatakan, Tandon BBS 3 memiliki luas sekitar 5.000 meter persegi dan pengerukan dilakukan hingga mencapai kedalaman sekitar dua meter dari kondisi sebelumnya yang hanya sekitar satu meter.
“Pak Wali memberikan arahan agar dilakukan pengerukan sampai dua meter. Artinya, kalau nanti kedalamannya bisa mencapai tiga meter, dengan luas 5.000 meter persegi, kapasitas tampungnya bisa mencapai sekitar 15.000 meter kubik air,” kata Dendi.
Menurut Dendi, peningkatan kapasitas tampung tersebut diharapkan dapat memperkuat fungsi tandon sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir di kawasan BBS 3.
Selain normalisasi, Dinas PUPR juga akan membangun jalan inspeksi di sekitar tandon. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk mendukung proses pemeliharaan karena selama ini akses alat berat menuju lokasi masih terbatas.
“Nanti kalau sudah rapi sesuai arahan Pak Wali, kita akan bangun juga jalan inspeksi untuk pemeliharaan. Selama ini alat berat kami tidak bisa masuk ke sini karena belum ada jalan inspeksi,” ujarnya.
Dendi menambahkan, terdapat tiga langkah yang akan dilakukan Pemerintah Kota Cilegon. Pertama, pengerukan dan normalisasi tandon. Kedua, pemeliharaan rutin agar fungsi tandon dapat terus terjaga. Ketiga, melakukan koordinasi dengan wilayah sekitar untuk memastikan saluran air yang menuju tandon dapat berfungsi dengan baik.
“Kita akan melakukan pemeliharaan rutin, tidak berlaku insidentil terus seperti ini. Kemudian kita juga akan berkoordinasi dengan kecamatan sekitar untuk bagaimana hilirnya dapat menampung saluran dari sini,” katanya.
Ketua RT setempat, Cahyono, menjelaskan, persoalan banjir di kawasan tersebut semakin dirasakan dalam beberapa tahun terakhir seiring berkembangnya permukiman dan pembangunan di wilayah sekitar.
Menurutnya, kawasan BBS 3 merupakan salah satu titik yang berada di posisi relatif rendah sehingga air hujan dari sejumlah wilayah di sekitarnya mengalir dan terkonsentrasi di kawasan tersebut.
“Dulu di belakang Perumahan BBS itu sebenarnya merupakan area persawahan, sehingga air mengalir dengan lancar. Tetapi sekarang dengan perkembangan penduduk, banyak perumahan dan pembangunan. Sementara di sini merupakan area yang paling rendah, seperti mangkuk,” jelasnya.
Cahyono berharap normalisasi tersebut dapat meningkatkan daya tampung tandon sehingga mampu mengurangi potensi banjir yang selama ini dirasakan masyarakat sekitar lima tahun terakhir.
“Air hujan dari area atas, dari RW 05, RW 09 dan RW 04, mengalir ke sini semua. Sementara pembuangannya kecil dan kondisi tandon juga sudah dangkal,” tuturnya.
(*Fer/Red)





















