Cilegon, CNO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon akan menerapkan program roots untuk mencegah terjadinya perundungan (bullying) di sekolah. Selain itu, pemerintah juga akan melibatkan orang tua siswa dalam pendidikan moral anak dalam program parenting.
Kepala Bidang (Kabid) Pusat Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (P2PNFI), pada Dindikbud Kota Cilegon, Vania Eriza mengatakan, selain kedua hal tersebut pemerintah juga akan memperkuat kerja sama dengan tokoh masyarakat dan komunitas pendidikan untuk mendukung gerakan anti-bullying dan pencegahan tawuran.
“Program Roots akan diterapkan untuk membangun budaya sekolah yang positif. Program ini akan memilih duta anti-bullying dan anti-tawuran di setiap sekolah,” ujar Vania.
Vania juga menambahkan bahwa sekolah-sekolah akan memetakan area rawan terjadinya tawuran dan meningkatkan pengawasan dengan melibatkan guru serta staf sekolah.
Selain itu, intervensi berbasis keluarga juga akan dilakukan dengan dukungan konseling dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).
“Mereka (DP3AP2KB) akan memberikan pendampingan kepada keluarga untuk membantu mengatasi masalah dari lingkungan rumah. Dinas Pendidikan Kota Cilegon juga tengah merancang sistem helpdesk khusus untuk pengaduan kasus tawuran dan bullying,” katanya.
Upaya ini, kata Vania mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten yang telah menggandeng kepolisian dalam program preventif, serta memberikan pelatihan bagi orang tua.
“Kementerian Agama juga mengambil peran dengan menyusun materi tentang bullying yang akan disampaikan melalui program MATSAMA di madrasah-madrasah,” ujarnya.
Data dari DP3AP2KB menyebutkan, dalam kasus bullying yang mengakibatkan pelecehan seksual, DP3AP2KB telah menangani 56 anak korban dengan memberikan pendampingan psikologis.
(*Fer/Red)




















